Posted by Alif Maulana Ibrahim on April 18, 2026 with No comments
Ada satu pertanyaan yang terdengar sederhana, tapi diam-diam menghancurkan siapa pun yang benar-benar merasakannya:
"If I leave here tomorrow ... Would you still remember me?"
Pertanyaan itu bukan sekadar tentang pergi.
Ia adalah ketakutan paling sunyi—tentang dilupakan.
Pada tahun 1973, Ronnie Van Zant vokalis band Lynyrd Skynyrd menulis sebuah lagu berjudul Free Bird.
Lagu yang dimulai dengan melodi lembut, tenang… seperti seseorang yang tidak ingin mengganggu siapa pun dengan luka yang ia simpan sendiri.
Melodi itu bukan sekadar indah.
Ia terasa seperti kesendirian yang akhirnya menemukan suaranya.
Kadang kita memang butuh sendiri.
Bukan karena kita tidak butuh siapa-siapa, tapi karena dunia terlalu ramai—dan kita terlalu lama berusaha menjadi versi yang orang lain inginkan. Kita tersenyum, kita mengiyakan, kita menahan diri… sampai suatu saat kita tersadar, kita sudah terlalu jauh dari diri kita sendiri.
Seperti tokoh dalam buku No Longer Human—yang awalnya hanya tidak enak hati, hanya ingin membahagiakan orang lain… tapi perlahan tenggelam dalam kekosongan yang tidak bisa dijelaskan. Sampai akhirnya, ia tidak lagi merasa seperti manusia.
Dan di situlah Free Bird berubah makna.
Ia bukan lagi tentang kebebasan yang indah.
Ia adalah suara seseorang yang ingin pergi… bukan karena tidak peduli, tapi karena ia lelah menjadi sesuatu yang bukan dirinya.
Setiap lirik lagu Free Bird seperti pengakuan yang tidak pernah diucapkan langsung:
"Aku ingin tinggal… tapi jika aku tetap di sini, aku akan kehilangan diriku sendiri."
Dan mungkin, yang paling menyakitkan bukanlah perpisahannya.
Melainkan kenyataan bahwa setelah semua yang pernah ada… kita mungkin hanya akan menjadi sesuatu yang perlahan memudar di ingatan seseorang.
Jadi ketika pertanyaan itu kembali terdengar—
"Kalau aku pergi besok… apakah kamu masih akan mengingatku?"
Sebenarnya itu bukan pertanyaan.
Itu adalah harapan kecil…
agar ada seseorang yang berkata, "Tidak usah pergi. Kali ini… kamu boleh jadi dirimu sendiri, dan aku tetap di sini."
Setelah lagu itu lahir pada 1973—lagu yang terasa seperti ruang sunyi bernama Free Bird—tidak ada yang benar-benar siap untuk kenyataan yang datang beberapa tahun setelahnya.
Tahun 1977, Band Lynyrd Skynyrd menaiki sebuah pesawat.
Perjalanan biasa, seperti hari-hari lain dalam tur panjang mereka.
Tidak ada firasat, tidak ada tanda.
Sampai akhirnya… bahan bakar itu habis.
Dan pesawat itu jatuh, membawa serta banyak hal yang tidak akan pernah kembali.
Di antara yang pergi, ada satu nama yang terasa terlalu berat untuk disebut dengan tenang—
Ronnie Van Zant sang vokalis Lynyrd Skynyrd. Seseorang yang pernah menulis tentang kebebasan… dan tanpa disadari, seperti sedang menuliskan perpisahannya sendiri.
Sejak saat itu, Free Bird tidak lagi terdengar sama.
Ia bukan lagi sekadar lagu tentang pergi.
Ia berubah menjadi sesuatu yang lebih sunyi—
seperti ucapan selamat tinggal yang tidak sempat diucapkan.
Seakan-akan ia berbisik dari kejauhan,
meminta untuk tidak ditahan,
meminta untuk diikhlaskan.
"Cause I'm as free as a bird now ... And this bird you cannot change"
Dan anehnya, justru di situlah luka itu tinggal.
Karena mengikhlaskan bukan berarti tidak peduli.
Kadang justru karena terlalu peduli… kita dipaksa untuk melepaskan.
Aku percaya, kesendirian itu penting. Bukan karena kita ingin menjauh, tapi karena dunia sering kali tidak benar-benar mengerti. Ada orang-orang yang terlihat paling hidup—yang paling banyak tertawa, paling sering membuat orang lain bahagia… padahal diam-diam, mereka menyimpan ruang kosong yang tidak pernah tersentuh siapa pun.
Orang lain melihat tawa.
Tapi tidak pernah benar-benar mendengar heningnya.
Mungkin… hanya sedikit orang yang benar-benar peka terhadap itu. Seperti Mike Shinoda yang pernah mencoba memahami temannya, Chester Bennington.
Lewat lagu Linkin Park—One More Light, ia seakan bertanya pada dirinya sendiri:
"Should've stayed, were there signs, I ignored? Can I help you, not to hurt, anymore?"
Dan di tengah dunia yang begitu ramai, muncul satu kalimat yang terasa begitu kecil… tapi menyakitkan:
"Who cares if one more light goes out? In the sky of a million stars"
Jawabannya sederhana.
Tapi tidak semua orang mampu mengatakannya.
"Well I do" Dan mungkin…
itulah yang sebenarnya ingin didengar oleh mereka yang diam-diam sedang tenggelam.
Dan di akhir semua ini, aku hanya ingin menyampaikan satu hal kepada siapa pun yang membaca…
Seperti sebuah lagu yang pernah dibawakan oleh Dream Theater—The Spirit Carries On.
Bahwa hidup ini… terlalu singkat.
"Life is too short The here and the now And you're only given one shot"
Terlalu singkat untuk terus berpura-pura kuat.
Terlalu singkat untuk menahan semua rasa sendirian.
Terlalu singkat untuk tidak benar-benar hidup sebagai diri sendiri.
"I used to be frightened of dying. I used to think death was the end. But that was before, I'm not scared anymore, I know that my soul will transcend"
Bahwa ketika suatu hari nanti kita pergi, kita tidak benar-benar hilang. Ada sesuatu yang tetap berjalan,
sesuatu yang tidak berhenti hanya karena tubuh ini berhenti. Seperti yang dibisikkan lagu itu pelan-pelan— bahwa jiwa… akan terus berlanjut.
Jadi jika esok hari aku tidak lagi ada, aku tidak ingin itu menjadi sesuatu yang menakutkan. Aku hanya ingin itu menjadi… sebuah kelanjutan. Dan untuk hari ini, selama aku masih di sini—aku ingin hidup, walau hanya sedikit lebih jujur dari kemarin.
Posted by Alif Maulana Ibrahim on April 02, 2026 with No comments
Sebagai pecinta film bernuansa mafia, saya selalu tertarik pada detail kecil yang membangun suasana—termasuk musiknya. Salah satu serial favorit saya, Peaky Blinders, dikenal lewat lagu ikonik “Red Right Hand” yang begitu melekat dengan atmosfer ceritanya.
Kini, lewat versi layar lebarnya, Peaky Blinders kembali menghadirkan soundtrack baru berjudul “Hunting the Wren” dari Lankum. Lagu ini mungkin terdengar sederhana di awal, tapi justru menyimpan nuansa yang jauh lebih gelap dan misterius.
Awalnya, saya sendiri tidak terlalu memperhatikan lagu ini. Namun setelah mendengarkannya berulang kali, rasa penasaran mulai muncul—apa sebenarnya makna di balik liriknya? Apa arti “wren”? Dan kenapa lagu ini terasa begitu kelam?
Untuk menjawab itu semua, saya mencoba menelusuri sedikit latar sejarahnya.
Posted by Alif Maulana Ibrahim on Mei 28, 2020 with 1 comment
Ilustrasi Cinta Sesungguhnya (bukan Modus)
Jadi dulu, sekitar tahun 2014, saya iseng bikin artikel di Blogspot. Niat awalnya sih sederhana… cuma mau nyindir kelakuan teman sekelas yang tiap hari selalu punya cara baru buat modus. Kreatif sih, tapi ya… kreatifnya ke arah yang meresahkan.
Posted by Alif Maulana Ibrahim on Mei 27, 2020 with No comments
Dulu sekitar tahun 2009 saya bermain game online, nah digame tersebut (seal online) ada 4 jenis batu permata untuk memperkuat pakaian dan senjata. Berikut 4 jenis batu permata tersebut yaitu crystal, ruby, diamond dan pink diamond. Dari keempat batu permata di game tersebut, yang menarik bagi saya yaitu batu permata Ruby. Ruby sendiri biasa dipakai oleh para raja dan petinggi negara karena memiliki warna yang terkesan jantan dan menarik serta bervariasi, ada yang merah muda sampai dengan merah darah.
Posted by Alif Maulana Ibrahim on Mei 16, 2020 with 2 comments
Nah.. seiring waktu terus bergulir dan zaman ikut berkembang, dengan teknologi yang semakin canggih, semuanya jadi makin mudah untuk dipalsukan. Yaps, mulai dari sepatu, baju, elektronik, sampai teknologi tempur pun sekarang bisa ditiru—hari ini, besok, bahkan seterusnya… sampai pada titik di mana mungkin akan terjadi krisis besar di bumi ini.
Posted by Alif Maulana Ibrahim on Februari 03, 2019 with 3 comments
Kita selalu punya alasan untuk menyalahkan—pemerintah, cuaca, atau nasib. Tapi tidak pernah cukup berani untuk menatap sumber masalah yang paling dekat: diri kita sendiri. Air yang masuk ke rumah itu bukan sekadar banjir. Ia adalah kiriman balik dari apa yang kita buang tanpa pikir panjang. Sungai dan laut tidak pernah benar-benar menolak—mereka hanya menunggu waktu untuk mengembalikan semuanya.
Ironisnya, sebagai suku Lampung, kita pernah diajarkan bahwa way yaitu sungai atau air adalah kehidupan. Sungai bukan tempat sampah, melainkan tempat suci, tempat kita bergantung, bahkan tempat dari mana kita minum. Tapi lihat sekarang—kita mencemarinya dengan tangan sendiri, lalu marah ketika air yang sama datang kembali tanpa ampun. Kita lupa, atau mungkin sengaja lupa, bahwa kehancuran sering kali dimulai dari kebiasaan kecil yang terus kita anggap sepele. Jadi sebelum menunjuk ke luar, mungkin ada baiknya kita belajar malu pada diri sendiri. Karena perubahan tidak pernah lahir dari teriakan, tapi dari kesadaran yang pelan-pelan diperbaiki. Dan jika kita masih menganggap sungai sebagai sumber kehidupan, maka seharusnya kita juga tahu bagaimana cara menghormatinya.
Posted by Alif Maulana Ibrahim on Januari 26, 2019 with No comments
Aku lahir di sebuah kota besar yang selalu sibuk bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi. Jalanannya sudah ramai sejak pagi, dipenuhi kendaraan yang bergerak perlahan seperti barisan panjang yang tak pernah selesai berbaris. Gedung-gedung berdiri dengan wibawa, sebagian tampak baru dan percaya diri, sebagian lain menyimpan jejak masa lalu yang belum sepenuhnya pergi. Orang-orang berjalan cepat dengan wajah serius, seolah setiap hari adalah perjuangan untuk membangun sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Udara kota itu hangat, kadang terasa berat, seakan membawa campuran harapan dan kelelahan generasi yang terus berganti namun menghadapi persoalan yang mirip. Di sudut-sudutnya terdengar percakapan tentang masa depan, tentang kemajuan, tentang kekuatan bangsa — pembicaraan yang terasa relevan entah itu kemarin atau hari ini.