Catatan Penulis & Penafian (Disclaimer)
Sebelum memasuki lembar cerita ini, penting bagi pembaca untuk mengetahui bahwa seluruh narasi di bawah ini merupakan fiksi penggemar (fan-fiction), prosa bebas, dan bentuk transformasi kreatif yang lahir dari imajinasi murni penulis. Karya ini ditulis sebagai bentuk penghormatan dan adaptasi bebas atas semesta fabel klasik "Animal Farm" karya George Orwell. Sementara karakter fundamental seperti Napoleon, Snowball, dan Benjamin berpijak pada fondasi aslinya, seluruh elemen baru—termasuk karakter "Praba", dialog, serta plot spesifik mengenai "Rencana Pangan Semesta" dan "Komite Pasokan Utama"—adalah murni rekaan orisinal penulis.
Sebagai sebuah alegori dan parodi sastra, karya ini bersifat fiksi murni. Seluruh nama tokoh, jabatan, lembaga birokrasi, kebijakan, tempat, maupun peristiwa yang digambarkan di dalamnya digunakan secara fiktif demi kepentingan ekspresi seni dan kritik sosial gaya Orwellian. Tidak ada hubungan, kemiripan, atau intensi apa pun dari penulis untuk merepresentasikan, menyindir, apalagi mencemarkan nama baik individu, pejabat publik, organisasi, kementerian, badan birokrasi, atau pemerintahan negara mana pun di dunia nyata. Tulisan ini dipublikasikan semata-mata untuk tujuan hiburan, edukasi, dan analisis sastra, sehingga penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penafsiran ulang atau penyalahgunaan isi cerita oleh pihak lain di luar koridor karya fiksi ini.
Prolog: Untuk Memahami Animal Farm
Dahulu, Peternakan Manor adalah tempat di mana manusia berkuasa dengan cambuk dan keserakahan. Dipimpin oleh seekor babi tua yang bijaksana, hewan-hewan melakukan pemberontakan, mengusir pemilik manusia, dan mengubah nama tempat itu menjadi Peternakan Hewan. Mereka memimpikan sebuah dunia baru di mana semua hewan setara dan bebas dari penindasan.
Namun, mimpi indah itu perlahan layu. Napoleon, seekor babi yang licik dan haus kekuasaan, perlahan menyingkirkan Snowball—babi idealis yang menjadi rekan seperjuangannya. Menggunakan pasukan anjing galak sebagai pelindung dan babi-babi lain sebagai penyebar propaganda, Napoleon mulai menduduki takhta tertinggi. Aturan awal revolusi bahwa "Semua hewan setara" perlahan berubah menjadi sebuah prinsip baru yang mengerikan: "Semua hewan setara, tetapi beberapa hewan lebih setara daripada yang lain."
Kelanjutan Kisah: Bayang-Bayang Napoleon
Dari luar jendela rumah peternakan, hewan-hewan memandangi para babi dan manusia yang sedang berpesta. Mereka melihat wajah babi. Lalu wajah manusia. Lalu wajah babi lagi. Namun tak ada lagi perbedaan yang dapat mereka temukan.
Malam itu berakhir dengan tawa, gelas-gelas yang saling beradu, dan lagu-lagu kemenangan. Tidak ada yang menyadari bahwa malam itu bukanlah akhir dari cerita. Itu hanyalah akhir dari revolusi, dan awal dari pemerintahan Napoleon.
Bertahun-tahun telah berlalu sejak malam itu.
Napoleon masih hidup. Tubuhnya memang telah menua; perutnya semakin besar dan langkahnya semakin lambat. Namun, kekuasaannya justru semakin mencengkeram kuat. Kini tidak ada satu sudut pun di peternakan yang tidak mengenal namanya. Potretnya tergantung di setiap lumbung, patungnya berdiri di setiap persimpangan jalan, dan pidatonya dipasang pada papan-papan pengumuman.
Setiap keberhasilan peternakan selalu dikaitkan dengannya. Jika panen berhasil, itu karena Napoleon. Jika hujan turun tepat waktu, itu karena Napoleon. Jika seekor sapi melahirkan anak yang sehat, itu karena kebijakan Napoleon.
Namun jika ada masalah, penyebabnya selalu sama: Snowball.
Tidak ada hewan muda yang pernah melihat Snowball. Tidak ada yang tahu apakah ia masih hidup. Bahkan sebagian besar hewan tidak tahu lagi seperti apa wajahnya. Namun setiap kali gudang kosong, setiap kali harga jerami naik, setiap kali pakan berkurang, atau setiap kali ada bangunan yang roboh, nama Snowball kembali disebut.
Napoleon selalu mengangguk pelan ketika mendengar laporan itu. "Aku sudah memperingatkan kalian tentang pengkhianat itu."
Anjing-anjing segera menggonggong setuju. Domba-domba langsung mengembik serempak, "Snowball! Snowball! Snowball!" Dan pembicaraan pun selesai.
Seiring berjalannya waktu, peternakan tumbuh semakin besar, dan bersamanya lahir sebuah labirin baru: birokrasi yang rumit. Gudang bertambah banyak, pajak gandum bertambah, peraturan bertambah, dan formulir bertambah. Tetapi anehnya, makanan di tempat makan hewan biasa tidak pernah tampak bertambah.
Untuk menjelaskan keanehan ini kepada para hewan yang mulai lapar, Napoleon mulai mengumpulkan babi-babi kelas menengah dan hewan-hewan oportunis ke dalam lingkaran kekuasaannya. Jumlah pejabat membengkak, bukan untuk bekerja, melainkan untuk meyakinkan peternakan bahwa keadaan sebenarnya sangat baik.
Di antara barisan pejabat baru inilah, berdiri seekor burung merak bernama Praba. Ia diberi jabatan mentereng sebagai Penjaga Lumbung Besar Peternakan. Apa yang sebenarnya ia kerjakan? Tidak ada yang benar-benar tahu. Di antara para pejabat Peternakan Besar, tidak ada yang lebih sering tampil di depan cermin selain Praba si Merak.
Napoleon menyukainya bukan karena kecerdasannya, bukan pula karena kemampuannya menghitung gandum—Praba si Merak bahkan sering salah menjumlahkan karung yang ada di hadapannya. Namun, ia memiliki satu bakat yang sangat berguna bagi rezim: ia mampu berbicara selama berjam-jam dengan optimis dan menyalahkan siapapun untuk mendukung pemerintahan Napoleon.
Ketika persediaan gandum menipis, Praba si Merak menyalahkan penjaga lumbung sebelumnya. Ketika catatan keuangan berantakan, Praba menyalahkan pegawai rendahan. Ketika para kambing mempertanyakan ke mana perginya cadangan jagung, Praba mengadakan pidato panjang tentang masa depan yang gemilang.
Napoleon menyukai itu. Anjing-anjing juga menyukai itu. Karena selama Praba sibuk bersilat lidah di atas panggung, tak ada hewan yang memperhatikan anjing-anjing itu sedang membawa karung-karung gandum keluar dari gudang pada malam hari.
Kekacauan di Kementerian Lumbung ini sebenarnya hanyalah riak kecil dari ambisi yang lebih besar di tingkat atas. Demi mengukuhkan nama besarnya, Napoleon kemudian memerintahkan peluncuran sebuah proyek raksasa: Rencana Pangan Semesta.
Seekor babi tidak dikenal ditunjuk sebagai Ketua Komite Pasokan Utama. Ia menjanjikan setiap hewan akan mendapat pakan terbaik dalam sejarah peternakan. Para domba bersorak, anjing-anjing bertepuk kaki, dan burung beo menyiarkan pidato itu selama berminggu-minggu.
Namun tidak ada yang menghitung berapa biaya yang diperlukan. Tidak ada yang memeriksa gudang. Tidak ada yang mengawasi distribusi. Yang ada hanyalah janji, dan janji, dan janji.
Tak lama kemudian, kenyataan mulai berbicara. Karung-karung gandum mulai menghilang. Jagung menghilang, kedelai menghilang, rumput kering menghilang. Anehnya, tubuh para pejabat justru semakin gemuk. Anjing-anjing memiliki kandang baru, Pejabat Komite Pasokan memiliki gerobak baru, bahkan beberapa babi tingkat menengah mulai memakai rompi sutra. Sementara itu, para kambing dan hewan pekerja menerima porsi pakan yang semakin hari semakin mengecil.
Ketika laporan kehilangan gandum akhirnya meledak dan tidak bisa ditutupi lagi, Praba si Merak segera naik ke panggung dengan bulu-bulu ekornya yang mengembang.
"Akar masalah ini berasal dari masa lalu!" katanya berkali-kali. "Semua ini akibat kecerobohan dan kesalahan para penjaga lumbung terdahulu!"
Domba-domba mengembik setuju. Mereka selalu menyukai pidato yang sederhana dan menunjuk kambing hitam.
Untuk meredam amarah warga, Praba si Merak lalu memecat beberapa semut pencatat. Ia juga menghukum seekor tupai tua yang telah puluhan tahun menjaga pembukuan peternakan dengan jujur. Nama-nama mereka dicoret dari papan kehormatan; mereka dijadikan tumbal atas keserakahan yang terjadi hari ini.
Benjamin si keledai tua hanya menggelengkan kepala melihat sandiwara itu. Ia masih ingat masa sebelum Napoleon berkuasa. Saat itu, para penjaga lumbung terdahulu memang tidak selalu benar, tetapi mereka dikenal karena satu hal: mereka mampu menjaga cadangan gandum bahkan ketika musim kering paling ekstrem datang. Mereka telah menyelamatkan peternakan dari kelaparan lebih dari sekali.
Kini banyak dari mereka telah pergi. Sebagian pensiun, sebagian dipecat, sebagian lagi memilih diam demi keselamatan. Dan setiap kali ada masalah baru di bawah kepemimpinan Napoleon, nama merekalah yang selalu diseret ke lumpur.
"Lucu sekali," gumam Benjamin datar. "Yang membuat lubang di atap adalah mereka yang berkuasa hari ini. Tetapi yang terus disalahkan adalah tukang bangunan yang sudah lama meninggalkan peternakan."
















