Get me outta here!

Riwayat Kegagalan Rencana Pangan Semesta

Catatan Penulis & Penafian (Disclaimer)

Sebelum memasuki lembar cerita ini, penting bagi pembaca untuk mengetahui bahwa seluruh narasi di bawah ini merupakan fiksi penggemar (fan-fiction), prosa bebas, dan bentuk transformasi kreatif yang lahir dari imajinasi murni penulis. Karya ini ditulis sebagai bentuk penghormatan dan adaptasi bebas atas semesta fabel klasik "Animal Farm" karya George Orwell. Sementara karakter fundamental seperti Napoleon, Snowball, dan Benjamin berpijak pada fondasi aslinya, seluruh elemen baru—termasuk karakter "Praba", dialog, serta plot spesifik mengenai "Rencana Pangan Semesta" dan "Komite Pasokan Utama"—adalah murni rekaan orisinal penulis.

Sebagai sebuah alegori dan parodi sastra, karya ini bersifat fiksi murni. Seluruh nama tokoh, jabatan, lembaga birokrasi, kebijakan, tempat, maupun peristiwa yang digambarkan di dalamnya digunakan secara fiktif demi kepentingan ekspresi seni dan kritik sosial gaya Orwellian. Tidak ada hubungan, kemiripan, atau intensi apa pun dari penulis untuk merepresentasikan, menyindir, apalagi mencemarkan nama baik individu, pejabat publik, organisasi, kementerian, badan birokrasi, atau pemerintahan negara mana pun di dunia nyata. Tulisan ini dipublikasikan semata-mata untuk tujuan hiburan, edukasi, dan analisis sastra, sehingga penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penafsiran ulang atau penyalahgunaan isi cerita oleh pihak lain di luar koridor karya fiksi ini.

Prolog: Untuk Memahami Animal Farm

Dahulu, Peternakan Manor adalah tempat di mana manusia berkuasa dengan cambuk dan keserakahan. Dipimpin oleh seekor babi tua yang bijaksana, hewan-hewan melakukan pemberontakan, mengusir pemilik manusia, dan mengubah nama tempat itu menjadi Peternakan Hewan. Mereka memimpikan sebuah dunia baru di mana semua hewan setara dan bebas dari penindasan.

Namun, mimpi indah itu perlahan layu. Napoleon, seekor babi yang licik dan haus kekuasaan, perlahan menyingkirkan Snowball—babi idealis yang menjadi rekan seperjuangannya. Menggunakan pasukan anjing galak sebagai pelindung dan babi-babi lain sebagai penyebar propaganda, Napoleon mulai menduduki takhta tertinggi. Aturan awal revolusi bahwa "Semua hewan setara" perlahan berubah menjadi sebuah prinsip baru yang mengerikan: "Semua hewan setara, tetapi beberapa hewan lebih setara daripada yang lain."

Kelanjutan Kisah: Bayang-Bayang Napoleon

Dari luar jendela rumah peternakan, hewan-hewan memandangi para babi dan manusia yang sedang berpesta. Mereka melihat wajah babi. Lalu wajah manusia. Lalu wajah babi lagi. Namun tak ada lagi perbedaan yang dapat mereka temukan.

Malam itu berakhir dengan tawa, gelas-gelas yang saling beradu, dan lagu-lagu kemenangan. Tidak ada yang menyadari bahwa malam itu bukanlah akhir dari cerita. Itu hanyalah akhir dari revolusi, dan awal dari pemerintahan Napoleon.

Bertahun-tahun telah berlalu sejak malam itu.

Napoleon masih hidup. Tubuhnya memang telah menua; perutnya semakin besar dan langkahnya semakin lambat. Namun, kekuasaannya justru semakin mencengkeram kuat. Kini tidak ada satu sudut pun di peternakan yang tidak mengenal namanya. Potretnya tergantung di setiap lumbung, patungnya berdiri di setiap persimpangan jalan, dan pidatonya dipasang pada papan-papan pengumuman.

Setiap keberhasilan peternakan selalu dikaitkan dengannya. Jika panen berhasil, itu karena Napoleon. Jika hujan turun tepat waktu, itu karena Napoleon. Jika seekor sapi melahirkan anak yang sehat, itu karena kebijakan Napoleon.

Namun jika ada masalah, penyebabnya selalu sama: Snowball.

Tidak ada hewan muda yang pernah melihat Snowball. Tidak ada yang tahu apakah ia masih hidup. Bahkan sebagian besar hewan tidak tahu lagi seperti apa wajahnya. Namun setiap kali gudang kosong, setiap kali harga jerami naik, setiap kali pakan berkurang, atau setiap kali ada bangunan yang roboh, nama Snowball kembali disebut.

Napoleon selalu mengangguk pelan ketika mendengar laporan itu. "Aku sudah memperingatkan kalian tentang pengkhianat itu."

Anjing-anjing segera menggonggong setuju. Domba-domba langsung mengembik serempak, "Snowball! Snowball! Snowball!" Dan pembicaraan pun selesai.

Seiring berjalannya waktu, peternakan tumbuh semakin besar, dan bersamanya lahir sebuah labirin baru: birokrasi yang rumit. Gudang bertambah banyak, pajak gandum bertambah, peraturan bertambah, dan formulir bertambah. Tetapi anehnya, makanan di tempat makan hewan biasa tidak pernah tampak bertambah.

Untuk menjelaskan keanehan ini kepada para hewan yang mulai lapar, Napoleon mulai mengumpulkan babi-babi kelas menengah dan hewan-hewan oportunis ke dalam lingkaran kekuasaannya. Jumlah pejabat membengkak, bukan untuk bekerja, melainkan untuk meyakinkan peternakan bahwa keadaan sebenarnya sangat baik.

Di antara barisan pejabat baru inilah, berdiri seekor burung merak bernama Praba. Ia diberi jabatan mentereng sebagai Penjaga Lumbung Besar Peternakan. Apa yang sebenarnya ia kerjakan? Tidak ada yang benar-benar tahu. Di antara para pejabat Peternakan Besar, tidak ada yang lebih sering tampil di depan cermin selain Praba si Merak.

Napoleon menyukainya bukan karena kecerdasannya, bukan pula karena kemampuannya menghitung gandum—Praba si Merak bahkan sering salah menjumlahkan karung yang ada di hadapannya. Namun, ia memiliki satu bakat yang sangat berguna bagi rezim: ia mampu berbicara selama berjam-jam dengan optimis dan menyalahkan siapapun untuk mendukung pemerintahan Napoleon.

Ketika persediaan gandum menipis, Praba si Merak menyalahkan penjaga lumbung sebelumnya. Ketika catatan keuangan berantakan, Praba menyalahkan pegawai rendahan. Ketika para kambing mempertanyakan ke mana perginya cadangan jagung, Praba mengadakan pidato panjang tentang masa depan yang gemilang.

Napoleon menyukai itu. Anjing-anjing juga menyukai itu. Karena selama Praba sibuk bersilat lidah di atas panggung, tak ada hewan yang memperhatikan anjing-anjing itu sedang membawa karung-karung gandum keluar dari gudang pada malam hari.

Kekacauan di Kementerian Lumbung ini sebenarnya hanyalah riak kecil dari ambisi yang lebih besar di tingkat atas. Demi mengukuhkan nama besarnya, Napoleon kemudian memerintahkan peluncuran sebuah proyek raksasa: Rencana Pangan Semesta.

Seekor babi tidak dikenal ditunjuk sebagai Ketua Komite Pasokan Utama. Ia menjanjikan setiap hewan akan mendapat pakan terbaik dalam sejarah peternakan. Para domba bersorak, anjing-anjing bertepuk kaki, dan burung beo menyiarkan pidato itu selama berminggu-minggu.

Namun tidak ada yang menghitung berapa biaya yang diperlukan. Tidak ada yang memeriksa gudang. Tidak ada yang mengawasi distribusi. Yang ada hanyalah janji, dan janji, dan janji.

Tak lama kemudian, kenyataan mulai berbicara. Karung-karung gandum mulai menghilang. Jagung menghilang, kedelai menghilang, rumput kering menghilang. Anehnya, tubuh para pejabat justru semakin gemuk. Anjing-anjing memiliki kandang baru, Pejabat Komite Pasokan memiliki gerobak baru, bahkan beberapa babi tingkat menengah mulai memakai rompi sutra. Sementara itu, para kambing dan hewan pekerja menerima porsi pakan yang semakin hari semakin mengecil.

Ketika laporan kehilangan gandum akhirnya meledak dan tidak bisa ditutupi lagi, Praba si Merak segera naik ke panggung dengan bulu-bulu ekornya yang mengembang.

"Akar masalah ini berasal dari masa lalu!" katanya berkali-kali. "Semua ini akibat kecerobohan dan kesalahan para penjaga lumbung terdahulu!"

Domba-domba mengembik setuju. Mereka selalu menyukai pidato yang sederhana dan menunjuk kambing hitam.

Untuk meredam amarah warga, Praba si Merak lalu memecat beberapa semut pencatat. Ia juga menghukum seekor tupai tua yang telah puluhan tahun menjaga pembukuan peternakan dengan jujur. Nama-nama mereka dicoret dari papan kehormatan; mereka dijadikan tumbal atas keserakahan yang terjadi hari ini.

Benjamin si keledai tua hanya menggelengkan kepala melihat sandiwara itu. Ia masih ingat masa sebelum Napoleon berkuasa. Saat itu, para penjaga lumbung terdahulu memang tidak selalu benar, tetapi mereka dikenal karena satu hal: mereka mampu menjaga cadangan gandum bahkan ketika musim kering paling ekstrem datang. Mereka telah menyelamatkan peternakan dari kelaparan lebih dari sekali.

Kini banyak dari mereka telah pergi. Sebagian pensiun, sebagian dipecat, sebagian lagi memilih diam demi keselamatan. Dan setiap kali ada masalah baru di bawah kepemimpinan Napoleon, nama merekalah yang selalu diseret ke lumpur.

"Lucu sekali," gumam Benjamin datar. "Yang membuat lubang di atap adalah mereka yang berkuasa hari ini. Tetapi yang terus disalahkan adalah tukang bangunan yang sudah lama meninggalkan peternakan."

Hidup Yang Palsu

Mungkin banyak orang langsung panas kalau membahas tentang bahayanya “utang”. Ustadz boleh ceramah apapun asal jangan ceramah utang! Utang memang diperbolehkan dalam agama tetapi ditekankan untuk dihindari, dan juga bukan berarti untuk dipelihara seperti hobi. Bahkan dalam banyak riwayat, utang dipandang sebagai beban yang serius. Nabi saja pernah menaruh perhatian besar terhadap perkara utang sampai urusan mensholatkan jenazah yang masih memiliki utang pun pernah diriwayatkan. Tapi manusia modern punya kemampuan luar biasa: mengubah peringatan menjadi pembenaran.

Ilustrasi peringatan darurat kepada warga sipil

Yang lebih lucu lagi, utang hari ini bukan lagi soal bertahan hidup. Banyak orang berutang demi terlihat hidup. Tinggal di lingkungan menengah membuat fenomena ini terasa seperti tontonan harian. Orang yang penghasilannya bahkan belum stabil sudah sibuk membangun citra stabil. Baru pegang uang sedikit, langsung otaknya lari ke iPhone terbaru, motor baru, mobil baru, rumah dengan cicilan tiga generasi, lalu dipamerkan di media sosial seolah-olah Forbes sedang mengincar mereka untuk masuk daftar orang terkaya berikutnya.

Ilustrasi mimpi basahnya kaum pengutang

Ironisnya, yang dikejar bukan aset yang menghasilkan uang kembali, melainkan simbol validasi. Mereka tidak membeli masa depan, mereka membeli tepuk tangan. Dan tepuk tangan itu mahal—dibayar dengan cicilan, bunga, dan kebiasaan gali lubang tutup lubang yang dianggap “normal”. Di lingkungan penuh mentalitas kepiting seperti ini, orang yang mencoba hidup sederhana malah dianggap aneh. Kita yang berusaha tidak berutang demi gaya hidup justru sering dijadikan “solusi keuangan darurat” oleh mereka. Seolah-olah kita menabung bukan untuk masa depan sendiri, tapi untuk menalangi keputusan finansial orang lain yang otaknya kalah cepat dibanding nafsunya.

Ilustrasi orang sederhana dikejar orang yang mau ngutang

Ada juga fenomena yang tak kalah ajaib. Uang makan pas-pasan, kebutuhan rumah tangga belum aman, tapi memaksakan umroh dengan keyakinan bahwa nanti pasti dibukakan rezeki berlimpah. Seakan-akan Tuhan dijadikan investor yang wajib mengembalikan modal spiritual mereka. Padahal agama mengajarkan ikhtiar dan tanggung jawab, bukan menjadikan keyakinan sebagai alat berjudi melawan kenyataan ekonomi.

Ilustrasi kita sudah tidak waras

Dan para pengutang kronis ini punya satu kesamaan: mereka selalu menghitung uang yang bahkan belum mereka pegang. Gaji minggu depan sudah habis duluan di kepala. Bonus yang belum tentu cair sudah dipakai untuk merencanakan cicilan baru. Hidup mereka seperti pertunjukan sulap gagal—menghilangkan uang yang bahkan belum muncul. Mereka terus yakin bisa gali lubang tutup lubang, sampai akhirnya yang tertutup bukan lubangnya, tapi hubungan pertemanan, keluarga, bahkan harga diri.

Orang sering takut penyakit berat seperti kanker karena merusak tubuh. Tapi utang yang tak terkendali merusak lebih banyak hal: kepercayaan, silaturahmi, ketenangan rumah tangga, bahkan rasa hormat antar manusia. Tidak sedikit keluarga pecah, sahabat menjauh, dan saudara saling benci hanya karena perkara “nanti saya bayar”. Utang itu bukan cuma angka, tapi juga ujian karakter.

Ilustrasi orang yang selalu menghitung uang yang belum mereka pegang

Pada akhirnya, utang bukan cuma soal uang yang belum dibayar. Ia adalah doa-doa yang tertahan karena hati dipenuhi kecemasan, wajah orang tua yang diam-diam malu karena anaknya lari dari tanggung jawab, dan persahabatan yang perlahan mati hanya demi angka di layar rekening. Yang lebih menakutkan, kita sering terlalu sibuk terlihat “mampu” di mata manusia sampai lupa mempertanggungjawabkan semuanya di hadapan Tuhan.

Bayangkan suatu hari kita meninggal dunia. Media sosial yang dulu penuh pamer itu tidak ikut masuk ke liang kubur. Motor, mobil, iPhone, dan semua barang yang dulu dipaksakan dengan utang hanya akan berpindah tangan. Tapi tagihan, janji yang diingkari, dan orang-orang yang pernah kita kecewakan bisa jadi tetap menunggu pertanggungjawabannya. Dan saat tubuh sudah terbujur kaku, kita tidak lagi punya kesempatan berkata, “Nanti saya bayar.”

Maka sebelum terlambat, berhentilah menjadikan gengsi lebih besar daripada kemampuan. Tidak apa-apa hidup sederhana, tidak apa-apa belum punya apa-apa, karena Tuhan tidak pernah malu melihat hamba yang jujur dengan keadaannya. Yang memalukan adalah hidup penuh kepalsuan demi pujian manusia, lalu meninggalkan beban untuk orang lain ketika ajal datang tanpa aba-aba.

Tempat kita beristirahat pada waktunya

Sebab di akhir hidup nanti, yang membuat kita tenang bukanlah seberapa mewah yang pernah kita miliki, melainkan seberapa sedikit hak manusia yang masih kita bawa menghadap Tuhan.

Daftar Pustaka

  1. Muslim.or.id — “Hadits-Hadits Tentang Bahaya Hutang”
  2. DetikHikmah — “Viral Gua Menuju Makkah di Tasikmalaya, Ini Kata MUI”
  3. Musik Raffa AffarKeagungan Tuhan
  4. Forbes Indonesia Rich List
  5. San Diego Hills Memorial Park
  6. Jack Sparrow dari Pirates of the Caribbean
  7. Media sosial, fenomena gaya hidup konsumtif, dan budaya validasi digital sebagai inspirasi utama penulisan narasi.

Antara Kebebasan, Kesendirian, dan Kepergian

Ada satu pertanyaan yang terdengar sederhana, tapi diam-diam menghancurkan siapa pun yang benar-benar merasakannya:

"If I leave here tomorrow ... Would you still remember me?"

Pertanyaan itu bukan sekadar tentang pergi.
Ia adalah ketakutan paling sunyi—tentang dilupakan.


Pada tahun 1973, Ronnie Van Zant vokalis band Lynyrd Skynyrd menulis sebuah lagu berjudul Free Bird.

Lagu yang dimulai dengan melodi lembut, tenang… seperti seseorang yang tidak ingin mengganggu siapa pun dengan luka yang ia simpan sendiri.

Melodi itu bukan sekadar indah.
Ia terasa seperti kesendirian yang akhirnya menemukan suaranya.

Kadang kita memang butuh sendiri.
Bukan karena kita tidak butuh siapa-siapa, tapi karena dunia terlalu ramai—dan kita terlalu lama berusaha menjadi versi yang orang lain inginkan. Kita tersenyum, kita mengiyakan, kita menahan diri… sampai suatu saat kita tersadar, kita sudah terlalu jauh dari diri kita sendiri.

Seperti tokoh dalam buku No Longer Human—yang awalnya hanya tidak enak hati, hanya ingin membahagiakan orang lain… tapi perlahan tenggelam dalam kekosongan yang tidak bisa dijelaskan. Sampai akhirnya, ia tidak lagi merasa seperti manusia.

Dan di situlah Free Bird berubah makna.

Ia bukan lagi tentang kebebasan yang indah.
Ia adalah suara seseorang yang ingin pergi… bukan karena tidak peduli, tapi karena ia lelah menjadi sesuatu yang bukan dirinya.

Setiap lirik lagu Free Bird seperti pengakuan yang tidak pernah diucapkan langsung:
"Aku ingin tinggal… tapi jika aku tetap di sini, aku akan kehilangan diriku sendiri."

Dan mungkin, yang paling menyakitkan bukanlah perpisahannya.
Melainkan kenyataan bahwa setelah semua yang pernah ada… kita mungkin hanya akan menjadi sesuatu yang perlahan memudar di ingatan seseorang.

Jadi ketika pertanyaan itu kembali terdengar—

"Kalau aku pergi besok… apakah kamu masih akan mengingatku?"

Sebenarnya itu bukan pertanyaan.
Itu adalah harapan kecil…
agar ada seseorang yang berkata, "Tidak usah pergi. Kali ini… kamu boleh jadi dirimu sendiri, dan aku tetap di sini."


Setelah lagu itu lahir pada 1973—lagu yang terasa seperti ruang sunyi bernama Free Bird—tidak ada yang benar-benar siap untuk kenyataan yang datang beberapa tahun setelahnya.

Tahun 1977, Band Lynyrd Skynyrd menaiki sebuah pesawat.
Perjalanan biasa, seperti hari-hari lain dalam tur panjang mereka.
Tidak ada firasat, tidak ada tanda.

Sampai akhirnya… bahan bakar itu habis.
Dan pesawat itu jatuh, membawa serta banyak hal yang tidak akan pernah kembali.

Di antara yang pergi, ada satu nama yang terasa terlalu berat untuk disebut dengan tenang—
Ronnie Van Zant sang vokalis Lynyrd Skynyrd. Seseorang yang pernah menulis tentang kebebasan… dan tanpa disadari, seperti sedang menuliskan perpisahannya sendiri.

Sejak saat itu, Free Bird tidak lagi terdengar sama.

Ia bukan lagi sekadar lagu tentang pergi.
Ia berubah menjadi sesuatu yang lebih sunyi—
seperti ucapan selamat tinggal yang tidak sempat diucapkan.

Seakan-akan ia berbisik dari kejauhan,
meminta untuk tidak ditahan,
meminta untuk diikhlaskan.

"Cause I'm as free as a bird now ... And this bird you cannot change"

Dan anehnya, justru di situlah luka itu tinggal.

Karena mengikhlaskan bukan berarti tidak peduli.
Kadang justru karena terlalu peduli… kita dipaksa untuk melepaskan.

Aku percaya, kesendirian itu penting. Bukan karena kita ingin menjauh, tapi karena dunia sering kali tidak benar-benar mengerti. Ada orang-orang yang terlihat paling hidup—yang paling banyak tertawa, paling sering membuat orang lain bahagia… padahal diam-diam, mereka menyimpan ruang kosong yang tidak pernah tersentuh siapa pun.

Orang lain melihat tawa.
Tapi tidak pernah benar-benar mendengar heningnya.


Mungkin… hanya sedikit orang yang benar-benar peka terhadap itu. Seperti Mike Shinoda yang pernah mencoba memahami temannya, Chester Bennington.

Lewat lagu Linkin Park—One More Light, ia seakan bertanya pada dirinya sendiri:

"Should've stayed, were there signs, I ignored? Can I help you, not to hurt, anymore?"

Dan di tengah dunia yang begitu ramai, muncul satu kalimat yang terasa begitu kecil… tapi menyakitkan:

"Who cares if one more light goes out? In the sky of a million stars"

Jawabannya sederhana.
Tapi tidak semua orang mampu mengatakannya.

"Well I do" Dan mungkin…

itulah yang sebenarnya ingin didengar oleh mereka yang diam-diam sedang tenggelam.


Dan di akhir semua ini, aku hanya ingin menyampaikan satu hal kepada siapa pun yang membaca…

Seperti sebuah lagu yang pernah dibawakan oleh Dream TheaterThe Spirit Carries On.

Bahwa hidup ini… terlalu singkat.

"Life is too short The here and the now And you're only given one shot"

Terlalu singkat untuk terus berpura-pura kuat.
Terlalu singkat untuk menahan semua rasa sendirian.
Terlalu singkat untuk tidak benar-benar hidup sebagai diri sendiri.

"I used to be frightened of dying. I used to think death was the end. But that was before, I'm not scared anymore, I know that my soul will transcend"


Bahwa ketika suatu hari nanti kita pergi, kita tidak benar-benar hilang. Ada sesuatu yang tetap berjalan,
sesuatu yang tidak berhenti hanya karena tubuh ini berhenti. Seperti yang dibisikkan lagu itu pelan-pelan— bahwa jiwa… akan terus berlanjut.

Jadi jika esok hari aku tidak lagi ada, aku tidak ingin itu menjadi sesuatu yang menakutkan. Aku hanya ingin itu menjadi… sebuah kelanjutan. Dan untuk hari ini, selama aku masih di sini—aku ingin hidup, walau hanya sedikit lebih jujur dari kemarin.





Nyanyian untuk yang Kecil: Tragedi Sunyi dalam ‘Hunting the Wren'

Sebagai pecinta film bernuansa mafia, saya selalu tertarik pada detail kecil yang membangun suasana—termasuk musiknya. Salah satu serial favorit saya, Peaky Blinders, dikenal lewat lagu ikonik “Red Right Hand” yang begitu melekat dengan atmosfer ceritanya.

Kini, lewat versi layar lebarnya, Peaky Blinders kembali menghadirkan soundtrack baru berjudul “Hunting the Wren” dari Lankum. Lagu ini mungkin terdengar sederhana di awal, tapi justru menyimpan nuansa yang jauh lebih gelap dan misterius.

Awalnya, saya sendiri tidak terlalu memperhatikan lagu ini. Namun setelah mendengarkannya berulang kali, rasa penasaran mulai muncul—apa sebenarnya makna di balik liriknya? Apa arti “wren”? Dan kenapa lagu ini terasa begitu kelam?


Untuk menjawab itu semua, saya mencoba menelusuri sedikit latar sejarahnya. 

Ciri Ciri Cowok Modus

Ilustrasi Cinta Sesungguhnya (bukan Modus)

Jadi dulu, sekitar tahun 2014, saya iseng bikin artikel di Blogspot. Niat awalnya sih sederhana… cuma mau nyindir kelakuan teman sekelas yang tiap hari selalu punya cara baru buat modus. Kreatif sih, tapi ya… kreatifnya ke arah yang meresahkan.

Belajar Tentang Batu Ruby Untuk Pemula

Dulu sekitar tahun 2009 saya bermain game online, nah digame tersebut (seal online) ada 4 jenis batu permata untuk memperkuat pakaian dan senjata. Berikut 4 jenis batu permata tersebut yaitu crystal, ruby, diamond dan pink diamond. Dari keempat batu permata di game tersebut, yang menarik bagi saya yaitu batu permata Ruby. Ruby sendiri biasa dipakai oleh para raja dan petinggi negara karena memiliki warna yang terkesan jantan dan menarik serta bervariasi, ada yang merah muda sampai dengan merah darah.



Cara Membedakan Airpods Asli dan Palsu

Nah.. seiring waktu terus bergulir dan zaman ikut berkembang, dengan teknologi yang semakin canggih, semuanya jadi makin mudah untuk dipalsukan. Yaps, mulai dari sepatu, baju, elektronik, sampai teknologi tempur pun sekarang bisa ditiru—hari ini, besok, bahkan seterusnya… sampai pada titik di mana mungkin akan terjadi krisis besar di bumi ini.